Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Agama (Kemenag) sepakat untuk menerapkan istitha'ah kesehatan secara tegas pada penyelenggaraan haji tahun depan. 

Pada penyelenggaraan haji tahun ini, jumlah jamaah haji Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci mencapai 221.000 orang. Sementara jumlah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji kurang dari 4.000 orang. Jumlah itu mencakup petugas pendamping kelompok terbang (kloter), petugas daerah kerja (daker), pengawas haji, dan tenaga kesehatan. Bahkan, jumlah petugas kesehatan dipangkas karena bertambahnya jumlah petugas kloter. Penambahan jumlah jamaah ini diikuti dengan jumlah jamaah risiko tinggi (risti) yang mendominasi, yakni lebih dari 60% atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya. 

”Jumlah petugas kesehatan sangat timpang. Rasionya satu orang harus melayani ribuan jamaah haji. Kami berharap tahun depan ada penambahan lagi un tuk petugas kesehatan,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Farid Moeloek saat membuka kegiatan Evaluasi Nasional Penyelenggaraan Kesehat an Haji 1438 H/2017 Masehi di Jakarta, kemarin. Dia memaparkan, dalam penegakan istitha'ah (kemampuan) kesehatan seperti yang di amanatkan Permenkes No 15 Tahun 2016 tentang Istitha'ah Kesehatan Jamaah Haji, pihaknya melakukan sejumlah langkah antisipasi. 

Diantaranya menyiapkan calon jamaah haji agar mampu secara kesehatan. Caranya, saat masih d dalam masa tunggu, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan dan pembinaan. 

”Tiga bulan sebelum berangkat diintensifkan melalui puskesmas di kabupaten/kota. Sayangnya masih saja ada perbedaan data antara di dokumen dan kondisi calon jamaah. Karena itu, tahun ini kembali mencuat pemberitaan penolakan jamaah terhadap keputusan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang menyatakan jamaah tidak laik terbang sehingga kepergiannya berhaji tertunda,” ungkap Menkes. 

Istitha'ah kesehatan perlu ditegakkan lantaran berdasarkan pengalaman tahun ini, banyak ja maah risti yang wafat pasca-Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina). Jumlah yang wafat pasca-Armina jauh lebih banyak dibanding sebelum atau saat pelaksanaan Armina. ”Ada aktivitas yang berlebihan, terutama bagi jamaah risti. Misal nya, umrah berulang-ulang padahal cuaca sangat panas,” ucapnya. Walaupun jumlah tenaga medis terbatas, Pusat Kesehatan Haji Kemenkes tetap melakukan upaya maksimal dalam me layani kesehatan jamaah haji. 

Caranya dengan menitikberatkan upaya pencegahan penyakit. PPIH kesehatan mempunyai strategi membentuk Tim Gerak Cepat yang bertugas melakukan penangan jamaah sakit. Sekaligus mencegah potensi kambuhnya penyakit bawaan jamaah yang sudah dibawa sejak dari Tanah Air. 

”Ada juga Tim Kuratif Rehabilitatif dan Tim Promotif Preventif,” papar Menkes. Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS), jamaah haji me mandang positif kinerja petugas haji. 

"Indeks kepuasan jamaah tahun ini adalah yang terbaik yakni 84,85, sedangkan pada tahun sebelumnya 83,83,” ujarnya. Penguatan istitha’ah diperlukan karena haji membutuhkan kesehatan. Dalam Rukun Islam, rukun 1 dan 2 yakni mengucapkan syahadat serta salat di wajibkan kepada semua umat Islam. ”Sementara bayar zakat, puasa, dan haji itu tidak semua diwajibkan. Ada syarat yang mengawali,” ucapnya. 

Lukman Hakim Saifuddin menambahkan, dulu istitha’ah dimaknai hanya finansial. Tapi sekarang istitha’ah juga mencakup kesehatan dan kesempatan. ”Nah, mereka yang tidak memiliki istitha'ah kesehatan dan kesempatan gugur kewajiban hajinya. Yang memutuskan calon jamaah haji mampu secara medis hanyalah ahli kesehatan, bukan ahli agama,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Kemenkes Untung Suseno mengatakan, kegiatan evaluasi berlangsung 1–4 Novem ber 2017 yang diikuti 236 orang, pelaksana dan penyelenggara kesehatan haji. ”Nanti ada forum diskusi yang sesuai desk-nya masing-masing. Kemudian dibuat kesimpulan sebagai bahan perbaikan layanan ke sehatan haji 2018," ucapnya. Di sela-sela pembukaan acara, Menkes Nila Farid Moeloek memberikan penghargaan kepada 10 individu atau lembaga yang dianggap berperan baik dalam mendukung pelaksanaan haji, khususnya di bidang kesehatan tahun ini. 
 

Mereka adalah Dinas Kesehatan (Dinkes) Sul sel; Dinkes Riau; KKP kelas II Padang; Asosiasi Kesehatan Haji Indonesia; PPIH Arab Sau d i Bidang Ke sehatan; Kabiro Perencanaan Setjen Kemenag Ali Rohmad, KH Qosim Sholeh, Yusack Setiawan; dua wartawan Metro TV dan wartawan KORAN SINDO-SINDOnews Muh Iqbal Marsyaf. ”KORAN SINDO memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pen tingnya istitha'ah kesehatan,” kata Kapuskes Haji dr Eka Jusuf Singka. (Binti Mufarida) 

 

Sumber: (www.sindonews.com